Banner Iklan
Rabu, 05 Juni 2024
MEREKA TAK TAHU KALAU SEBENARNYA YANG KAYA ITU, AKU! (3)
Disebuah restoran mewah, Bayu baru saja tiba disana menuju ruangan yang dimaksud oleh mamanya.
Disana semua orang telah menunggunya. Netra nya menatap satu persatu orang yang ada disana. Tapi ia tidak menemukan sosok yang ia cari.
"Hai, Bayu sini duduk," sapa Sisil dengan senyuman mengembang di wajahnya.
"Ma, Arum mana?" tanya Bayu bingung karena istrinya tidak ada disana.
"Bayu, sekarang kamu duduk aja dulu. Masa mau berdiri terus seperti itu." Erma sengaja mengalihkan pembicaraan.
Bayu terpaksa duduk di kursi yang telah disiapkan sebelah Sisil, dengan mata masih celingak-celinguk mencari keberadaan istrinya.
"Ini loh Jeng, anakku Bayu. yang kuceritakan tadi." Erma memperkenalkan Bayu, pada Widya mamanya Sisilia.
"Wah, ternyata tampan sekali ya," ucap Widya tersenyum kearah Bayu.
"Bayu, kenalan dong sama tante Widya," ucap Erma yang melihat Bayu tidak merespon.
Atas perintah Erma, Bayu pun memperkenalkan dirinya.
"Saya Bayu, Tante," ucapnya. Sembari menjabat tangan Widya.
"Bayu, Mama sengaja mengajakmu makan malam disini, karena Tante Widya baru datang dari Amerika. Keluarganya hebat banget loh, punya perusahaan berlian," ucap Erma lagi.
"Oh, iya ma. Tapi Arum dimana? Kenapa belum datang juga?"
Mendengar pertanyaan Bayu, Widya mengerutkan keningnya. Ia bingung siapa sebenarnya orang yang selalu ditanyakan oleh Bayu.
"Arum ... Tadi katanya dia tidak mau ikut, mama juga nggak tahu kenapa. Ya Sudah, kita makan sekarang ya."
Dengan cepat tangan Sisil mengambil makanan untuk Bayu, Erma pun tersenyum. Merasa sangat setuju dengan sikap Sisil.
"Ini cobain deh, Mas." Sisil mengarahkan sendok ke arah mulut Bayu.
"Nggak usah Sil, biar aku saja," tolak Bayu. Dirinya merasa tidak nyaman dengan sikap Sisil mencari perhatian.
"Cobain dulu, enak loh." Sisil tetap memaksa.
Dengan berat hati Bayu terpaksa menerima suapan dari Sisil dan disaat yang bersamaan seseorang memanggil namanya.
"Mas Bayu!"
Suara itu sangat familiar bagi Bayu, ia pun langsung menoleh.
Lain halnya dengan Erma dan Sonia, keduanya saling menatap satu sama lain, terkejut beserta kesal dengan kehadiran Arum.
'Kenapa wanita kampungan bisa ada disini? Apa mungkin Bayu yang memberitahunya?' batin Erma, sambil menundukkan wajahnya karena malu.
Arum perlahan berjalan ke arah Bayu dan mendaratkan sebuah ciuman wajah suaminya. Bayu yang merasa aneh dengan tingkah Arum yang tak biasa hanya bisa diam dalam kebingungan.
"Maaf ya semuanya, aku telat."
"Ma, maaf ya, tadi aku pikir nggak bisa datang. Tapi suamiku ada disini."
"Eh, ada tamu rupanya, kenalin Tante, saya Arum istrinya mas Bayu," ucapnya lagi, karena sedari tadi hanya suaranya yang terdengar.
Widya terkejut mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Arum. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Bayu sudah punya istri, karena selama ini Erma bilang Bayu itu masih bujangan dan akan dijodohkan dengan Sisil anaknya.
"Mm, Sil. Kamu duduk di sana ya," tunjuk Arum pada kursi yang kosong. Dengan berat hati dan penuh dengan rasa malu Sisilia perlahan pindah dari tempat duduknya.
Suasana hening sejak kehadiran Arum, makan malam yang tadinya terasa istimewa kini berubah biasa saja. Tidak ada obrolan, yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok yang beradu piring.
Erma dan Sonia merasa sangat heran dengan sikap Arum yang berubah 100%. Arum yang selama ini pendiam dan penurut, kenapa tiba-tiba berubah terkesan tidak sopan.
Arum yang berhasil mengacaukan semuanya.
*
Sesampainya dirumah wajah Erma tampak kesal, semua rencana yang telah ia susun dengan rapi gagal total.
"Mas, kamu pasti capek, duluan aja ke kamarnya. Kalau mau mandi airnya sudah aku siapin."
"Iya sayang, makasih ya." Bayu berlalu, Arum berjalan ke dapur untuk mengambil air putih.
"Arum! Puas kamu karena telah menghancurkan semuanya." Erma dengan wajah masam datang ke dapur.
Arum menoleh dengan tersenyum miring,"Tentu! Bahkan sangat puas."
Mendengar jawaban Arum, Erma sudah mengangkat tangannya hendak menampar. Tetapi tangan Arum lebih cepat mencegatnya.
"Berani menyentuhku sekali saja. Anda akan menanggung akibatnya!"
Arum mencengkeram erat tangan mertuanya, "Sekarang Anda sudah sangat pandai bersandiwara, baiklah permainan akan kita mulai," bisiknya di telinga Erma, kemudian berlalu dengan santainya.
Bersambung...
Di kbm sudah bab 19. klik link dibawah ⬇️

EmoticonEmoticon