Banner Iklan
Sabtu, 25 Mei 2024
SUAMIKU TIDAK TAU BAHWA PEMILIK PERUSAHAAN TEMPAT DIA BEKERJA ADALAH AKU
Diterbitkan Mei 25, 2024
Tags
![]() |
Foto : ilustrasi - FB @laila |
SUAMIKU TIDAK TAU BAHWA PEMILIK PERUSAHAAN TEMPAT DIA BEKERJA ADALAH AKU
Bab 10
"Mas, talak aku sekarang juga!" lirihku dengan suara bergetar.
Mas Agung terdiam menatapku.
Lalu Ia menyeringai.
"Kamu itu tidak punya siapa-siapa di dunia ini, Sera. Apa jadinya kamu jika pisah dariku. Mentang-mentang baru dapat kerja, sudah minta cerai. Belum tentu gajimu bisa memenuhi kebutuhanmu dan Giska." Mas Agung berkata seraya tersenyum miring seakan meremehkan."Aku lebih baik tinggal di kolong jembatan dari pada satu rumah dengan perempuan pelakor itu," sergahku.
Aku segera kembali ke kamar. Mengingat belum mengerjakan kewajiban subuhku.
Pagi ini aku tidak menyiapkan keperluan Mas Agung seperti biasa. Hatiku sudah terlanjur patah. Tekadku sudah bulat ingin berpisah. Tak ada lagi yang pantas untuk aku pertahankan di sini.
Diam-diam, aku sudah memasukan beberapa pakaian Giska dan keperluan sekolahnya ke dalam koper. Serta beberapa pakaianku.
"Sera ...! Mana baju dan celanaku?"
"SERA...!
Mas Agung teriak-teriak dari kamarnya, saat aku sedang berada di kamar Giska.
"Cari saja sendiri. Atau suruh gundikmu itu yang menyiapkan." Aku menghampirinya sambil melipat tangan di dada.
"Aku ini masih suamimu ...!" teriaknya lagi dengan mata melotot.
Akhirnya emosimu terpancing. Teruslah marah Mas. Agar keluar kata-kata itu dari mulutmu.
"Suami macam apa, Mas?" Suami bejat seperti kamu nggak pantas dihargai!
Lebih baik aku tidak punya suami. Dari pada di sakiti terus-terusan. Aku lelah. Capek !" sahutku lantang.
"Kurang ajar" geram Mas Agung. Matanya nyalang memandangku.
"Istri nggak tahu terima kasih. Mau hidup susah kamu di luar sana, hah? Bukannya bersyukur kamu nggak aku ceraikan." Mas Agung berkata penuh emosi.
"Mana ada istri yang bersyukur ketika suaminya selingkuh?" sahutku lagi.
Dengan susah payah Mas Agung mencari pakaian kerjanya. Hampir semua isi lemari diobrak-abrik olehnya.
Aku memandanginya sambil bersandar pada dinding kamar. Dalam hati aku tertawa, rasain kamu, Mas. Sejak menikah hingga kemarin, sekalipun aku tidak pernah mengabaikanmu, Mas. Aku selalu mengurusmu dengan baik. Aku rela menjalani hidup penuh cacian dan hinaan dari keluargamu. Tapi justru penghianatan yang aku dapat.
"Gung ....! Mbak ikut sama kamu ke kantormu, ya." Lagi-lagi teriakan Mbak lastri sudah membahana di pagi hari.
Mas Agung tidak menjawab. Ia sedang kerepotan mencari kaos kaki dan saputangannya. Wajahnya terlihat masih sangat kesal.
Aku keluar kamar, Ibu dan Mbak Lastri sepertinya sedang berbicara serius di dalam kamar ibu. Mungkin mereka sedang membicarakan kejadian sebelum subuh tadi.
"Maafkan Agung ya, Yun. Mungkin dia khilaf lihat kamu cantik begini" terdengar suara Ibu dari dalam kamar.
Astaga, ternyata di dalam kamar itu juga ada Yuyun. Mereka sedang bicara bertiga rupanya.
Aku yang tidak habis pikir dengan pemikiran mereka. Sudah jelas di sini aku yang disakiti. Tapi kenapa malah kepada Yuyun ibu meminta maaf. Justru pagi tadi Yuyun terlihat sangat senang melakukannya dengan Mas Agung.
Bi Sum baru saja pulang dari mengantar Giska ke tempat mobil jemputan.
"Ssstt...., Bi Sum sini." panggilku.
"Ya, Bu."
"Bibi pulang dulu, ambil beberapa pakaian. Nanti ikut saya tinggal di apartement." Setengah berbisik aku berbicara pada Bi sum.
"Bibi tenang aja. Apartementnya nggak jauh kok. Itu yang seberang mall di depan jalan besar .
"Baik, Bu."
Aku memang sudah memberitahu Corri, agar tidak jadi menjual unit apartement itu. Mengingat lokasinya sangat dekat dengan sekolah Giska.
"Sera ..., mana sarapan kita?" Lagi-lagi kakak iparku itu berteriak.
Empat orang tak punya perasaan itu sudah duduk manis di meja makan yang kosong.
"Seraa ...!"
"Bik Sum ...!"
"Kenapa harus teriak-teriak, sih?" Akhirnya aku menghampiri mereka.
"Hei, sarapan mana? Laper nih!" bentak Mbak lastri.
"Laper, Mbak? Sana masak sendiri!" sahutku.
Mbak lastri lantas melotot kepadaku.
"BI Sum mana?" tanya ibu.
"Bi Sum aku suruh pulang," jawabku.
"Loh, kenapa kamu suruh pulang? Kerjaannya kan belum beres? Kamu ini gimana sih, Seraaa ...?" tanya ibu penuh emosi.
"Bi Sum itu kerja sama aku, Bu. Aku yang gaji dia. Terserah aku dong," jawabku lantang. Maafkan aku, Bu. Rasa hormatku lenyap sudah pagi ini.
"Lama-lama kamu makin kurang ajar ya sekarang!" Mas Agung pun berdiri dan membentakku.
"Kenapa nggak kamu ceraikan saja wanita ini, Mas?" sahut Yuyun.
"Iya, Gung. Sudah ceraikan saja. istri kurang ajar kayak dia," timpal Mbak Lastri.
Mas Agung terdiam. Aku tahu sebenarnya dia masih berat untuk menceraikanku. Mungkin karena Giska.
"Kenapa diam, Mas?" tanyaku.
Tanpa rasa malu, Yuyun meremas jemari Mas Agung. Seolah-olah ingin memberi kekuatan.
"Pergi kamu dari sini ! Serani Gunawan, mulai hari ini kamu bukan istriku lagi," ucap Mas Agung dengan suara bergetar.
Aku terperanjat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki yang pernah berjanji akan menjagaku seumur hidupnya.
Kata-kata yang aku tunggu akhirnya keluar dari mulut laki-laki itu. Namun tetap saja, menyakitkan sekali rasanya.
Sekuat tenaga aku tahan agar air mata ini tidak lolos. Sera yang sekarang adalah wanita yang kuat. Mereka tidak akan bisa lagi semena-mena padaku.
Aku mellihat senyum kepuasan dari wajah Yuyun dan Mbak Lastri.
Berbeda dengan Ibu. Wajah ibu nampak gusar. "Jangan kau bawa cucuku." Suara Ibu parau.
"Bagaimanapun juga Giska masih cucu Ibu. Tapi aku sebagai ibu kandungnya tidak akan rela anakku diasuh oleh dua penghianat ini." Aku menunjuk dua manusia yang sedang berpegangan tangan di depan mataku.
"Aku minta maaf, Bu. Aku pamit," lirihku setelah mencium tangan Ibu.
Aku melangkah ke kamar Giska. Semua yang sudah aku siapkan segera aku keluarkan dari kamar Giska.
Aku tidak membawa banyak barang. Hanya yang aku anggap penting-penting saja.
Bi Sum sudah aku kabarin agar menungguku di depan rumah saja.
"Sera ...." Mas Agung menghampiriku ke kamar Giska.
"Kamu akan bawa Giska kemana. Tinggal di mana kamu nanti?" Suaranya sudah mulai melunak.
"Kamu nggak usah khawatir, Mas. aku jamin Giska tidak akan hidup susah denganku. Hanya dia yang aku punya saat ini," jawabku.
"Maasss ..., ayo berangkat sudah siang." Yuyun menghampiri Mas Agung ke kamar Giska. Betul-betul tak tahu malu wanita itu.
Ia menarik tangan Mas Agung keluar kamar.
Judul : FOTO PELAKOR DI PROFIL PONSEL SUAMIKU
Penulis : Rina Novita
Tamat di Kbmapp
Artikel Terkait
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

EmoticonEmoticon