Kamis, 20 Juli 2023

Raisa Remaja Liar Penuh Pesona

Raisa Remaja Liar Penuh Pesona

Bab 1

Mataku sulit terpejam, menatap langit langit kamar yang terbuat dari bilik bambu. Pikiran liarku berkelana tak karuan arahnya. Bingung , bingung , dan bingung. Itulah kata yang saat ini kurasa. Suara jangkrik saling bersahutan mengisi suasana heningnya malam. Bola mataku bergerak kekiri dan kanan dengan pelan. Beginilah menjadi seorang pengangguran. Tanpa adanya kepastian pekerjaan, bahkan tak ada pendapatan. Terkadang hanya menjadi beban dilingkungan. Karena tak mampu di andalkan.

Nyamuk berterbangan lalu lalang diatas pandanganku. Mereka ngeyel dan suara khas bisingnya terkadang memekikkan telinga. Malam adalah sahabat terbaik tatkala diriku penuh kebimbangan. Setia menemani dengan heningnya. Sesekali terdengar suara batuk dari kamar sebelah yang dihuni oleh ibuku.
"Kasian ibu, belum pernah aku membahagiakannya." Ucapku dalam hati. "Semoga aku bisa cepat cepat membahagiakannya." Doaku memecah heningnya malam.

Aku bernama ANTON PRATAMA , Usia 20 Tahun, tinggal dipedesaan bersama ibu, sejak kecil aku hanya hidup bersama ibu tanpa seorang Ayah. Setelah lulus sekolah dua tahun yang lalu, Aku melamar kesetiap perusahaan dan selalu menghabiskan waktu didepan layar handphone mencari lowongan pekerjaan. Entah keberapa kali aku melamar , tak satupun ada panggilan bahkan interview. Mungkin saja belum ada nasib. Aku bukan anak pemalas seperti yang lainnya mengandalkan orangtua. Terkadang rutinitas sehari hari bekerja serabutan, kuli bangunan pernah kulakukan. Bagiku yang terpenting adalah pekerjaan nya halal.

Pikiran yang merasuk malam ini adalah membuat surprise untuk ibu, karena seminggu lagi dirinya ulang tahun, dua Minggu aku menganggur, tak ada tetangga yang menyuruhku untuk melakukan pekerjaan serabutan. Misalnya memotong rumput halaman rumahnya, atau membetulkan atap rumah yang bocor. Aku selalu berdoa meminta kepada Tuhan, supaya dimudahkan rezeki.
Tak terasa terdengar suara ayam berkokok menandakan pagi akan datang. Tepat pukul 4 subuh aku terbangun kembali untuk siap siap melaksanakan salat subuh. Ibuku sedari tadi sudah didapur menggoreng pisang untuk dititipkan diwarung milik tetangga. Rutinitas yang tidak aneh , Karena terbiasa dilakukan sudah sejak aku kecil. Kumandang adzan subuh bergema. Aku pun segera pergi ke mushola yang tak jauh dari rumah.
Pagi itu aku belum mau pulang kerumah, setelah selesai membaca Al-quran, aku duduk santai diteras mushola dengan rasa kebingungan.

"Anton, tumben belum pulang?". Tanya Pak ustadz Zulfi padaku.
"Masih ingin santai disini pak ustadz, menikmati suasana pagi." Jawabku sekenanya.
"Hmm.... Masa sih ?" Tanyanya seolah tau apa yang kupikirkan. Dia menghampiriku dan duduk disebelah. Aku menjadi kaget karena tak pernah sebelumnya duduk bersamanya.
"Kalau ada masalah, bisa cerita pada bapak." Ucapnya dengan menawarkan sharing.

Aku hanya tertunduk dan tak berani mengatakan apapun. Kulihat dari samping dia merogoh saku dan mengambil satu batang roko dari bungkusnya dan menyalakannya. Dihisapnya dalam dan hembusan asapnya terkadang keluar dari kedua lobang hidungnya.

"Bapak paham dengan yang rasakan saat ini, memang tidak mudah mencari pekerjaan tetap. Karena jamannya sekarang dimana lapangan pekerjaan sulit untuk kaum laki-laki. Apalagi, belum memiliki skill yang mumpuni dan pengalaman." Tuturnya dengan pelan.

"Iya pak ustadz betul, lalu apa yang harus saya perbuat ? , Adakah solusi untuk saya pak ustadz ?" Tanyaku mulai berani jujur.

Kicauan burung bersahutan diatas ranting pohon, udara sejuk dengan embun yang masih terasa tebal mengerubungi desa tempat tinggalku. Lalu lalang para petani sambil memberi hormat pada pa ustadz adalah pemandangan yang tak asing.

" Insyaallah Ada sebenarnya solusi untukmu Anton, akan tetapi apakah kamu bersedia ?" Tanyanya berbalik.

"Kalau boleh tau , apa ya pa Ustadz?" Aku ingin lebih detail maksud dan tujuan dari isi pembicaraan pak ustadz barusan.

Asap rokoknya mengelilingi sekitar halaman mushola. Sekejap langsung hilang bersama embun pagi. Hingga ujung batang rokok sudah mulai membakar, lalu dia matikan rokoknya.

"Begini Anton, sebelumnya saya bukan mau merendahkan, ada pekerjaan di kota Jakarta sebagai tukan kebun, kebetulan dulu bapak punya teman sekolah yang merantau hingga akhirnya sukses disana." Terangnya dengan nada yang serius.

"Saya mau pak, tapi saya harus minta izin dulu kepada ibu dan meminta doanya." Jawabku tanpa berpikir panjang. Menurutku, ini adalah peluang yang tak boleh terlewatkan.

"Kalau begitu, bapak tunggu kabar kesiapanmu. Jadi atau tidaknya kamu bekerja, tolong kabari secepatnya, Agar bapak bisa memberi kabar pada teman bapak disana." Tuturnya.

"Saya izin pulang dan membicarakan ini dengan ibu saya pak ustadz, assalamualaikum." Jawabku sembari menyalami tangannya pak Ustadz.

"Waalaikum salam." Jawabnya dengan tersenyum dan mengusap kepalaku.

Aku bergegas pulang , lalu kupakai sandal dengan riang, pagi itu seolah menjadi jawaban atas rasa bingung yang mendera selama dua Minggu ini, langit nan cerah merupakan lukisan dari perasaanku. Beberapa rumah dan kebun sudah kulalui. Akhirnya aku sampai. Namun, Suasana terdengar sepi, Ibu tAk ada dalam rumah. Meskipun kupanggil berulang kali. Mungkin mengantarkan dagangannya kewarung. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Aku tidak berpapasan dijalan karena berbeda arah.

"Anton, kemana dulu selesai salat subuh ?" Tanya ibuku yang baru saja pulang.
"Habis ngobrol dengan pak ustadz barusan ada yang ingin Anton sampaikan pada ibu sekalian memohon izin dan doanya." Pintaku dengan serius.

Aku menceritakan percakapan dan tawaran dari pak ustadz, ibu mengizinkanku dan mendoakanku. Pesan darinya adalah tidak boleh berbuat negatif. Harus bisa membawa diri kemanapun. Serta jangan meninggalkan sholat. Akhirnya, aku menelpon pak ustadz dan mengiyakan tawaran pekerjaan dari temannya. Tak berlangsung lama dirinya menyarankan untuk menyiapkan segala keberangkatan beserta beberapa pakaian. Lalu, pak ustadz menutup panggilan telpon dariku. Katanya akan secepatnya memberitahu temannya, Agar pekerjaan tidak di isi oleh orang lain.

Bersambung.


EmoticonEmoticon