Banner Iklan
Selasa, 18 Juli 2023
Dua Sejoli Di Mabuk Cinta Tanpa Restu Orang Tua Part1
Diterbitkan Juli 18, 2023
Tags
Novel Dua Sejoli di Mabuk Cinta Tanpa Restu Orangtua.
Oleh : Arief Saepudin.
PART 1
Hiruk pikuk disebuah sekolah dengan siswa siswi sedang berkerumun tepatnya dipinggiran lapangan pagi itu, Hari Rabu , Awan putih berarak diatas biru langit berbalut Sang fajar yang mulai menampakkan cahaya dan panasnya mulai perlahan terasa. Suara kicauan burung lalu lalang dicakrawala terkadang mereka hinggap diatas ranting pohon , Kepalanya berlenggak lenggok seolah menjadi saksi terjadinya peristiwa yang berkesan.
"heiii.... kalian baris yang bener !!"Ujar Seorang Lelaki.
Suara kakak Kelas yang memberikan perintah terhadap para siswa siswi yang baru memasuki jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas Harapan Taruna.
Hari awal masa MPLS disekolah baru, Masa yang sangat menyebalkan dan ingin cepat kulalui. Semua terlihat biasa saja tidak ada yang aneh. Aku berlari mengejar waktu. Akibat dari semalam begadang menonton film box office. Berujung pada momen memalukan.
"Maafkan Saya terlambat masuk Diklat hari ini." Ujar Mira dengan nada yang sedikit ketakutan. Wajahnya tertunduk tanpa berani menatap kesekelilingnya.
"Huuuuuuuuuuuuuu......" Suasana Hening menjadi bergemuruh , sorak sorai terdengar tatkala Mira berbicara dihadapan semua kakak kelasnya.
"Diam kalian Semua." Bentak Ketua Osis.
"Kamu yang baru datang terlambat , kesini ketengah lapangan." Seorang kakak kelas menambahkan.
Sontak membuat heboh seluruh pelajar terutama para lelaki, mereka sejenak mematung dan terpukau dengan sosok gadis yang beranjak remaja sekitar 16 Tahun. Tak berlangsung lama , Petaka kecil mulai datang dengan suara lantang memecahkan suasana hening.
"Siapa Namamu ?" Tanya seorang kakak kelas.
"Mira." Jawabku.
"Karena kamu terlambat masuk dan mengikuti acara kegiatan pertama , maka kami berikan hukuman !" Suara Kakak Kelas wanita yang tegas dan lantang.
"I......iya...kak .." ucap Mira dengan rasa malu karena menjadi tontonan pagi itu.
"Sekarang bersihkan toilet dibelakang sana" Ucap seorang kakak kelasnya memberi perintah.
"Baaa...baiiikk... Kak...." Jawab Mira dengan kepala tertunduk dan rona wajahnya pucat menahan malu.
"Hahahahahaha.... Sukurin...." ujar seorang siswa baru.
Mira melihat lelaki itu dengan wajah yang kesal dan semrawut. Ledekan itu seharusnya tidak terlontar padaku seorang wanita.
"Heiii... kamu yang berbicara barusan kedepan." Ucap Kakak kelas.
Seorang pria berbadan tegap , kulitnya hitam manis dengan wajah melankolis melangkah maju dengan penuh percaya diri tanpa rasa bersalah.
"Huuuuuuu......" Siswa siswi berteriak serentak ketika pria itu berdiri tepat ditengah lapang.
Para kakak kelas yang tergabung dalam OSIS menggeleng-gelengkan kepala dengan tingkah para murid baru.
"Diam kalian semua !!! , Apa perlu saya kasih hukuman pada kalian semua yang selalu berteriak menimbulkan kegaduhan ?". Ucap Bara ketua Osis.
Semua murid baru pun tertunduk, tiada yang berani membantah seorang pun, apalagi menatap langsung kewajahnya. Bisa habis dihukum karena akan dianggap songong.
"Siapa namamu ?" Tanya Bara.
"Ardi." Jawabnya.
"Kenapa kamu tertawa dan berteriak ?". Tanya Bara.
Aku melihat dari kejauhan. Dia tidak berani menatap sekelilingnya sama sepertiku waktu tadi. Dalam hati merasa puas. Karena, bukan aku saja yang mengalami sial diawal hari masuk sekolah. Aku malah berharap, dia diberikan hukuman yang paling berat dariku.
"Suruh siapa menyoraki diriku ini." Gumamku dalam hati. Aku menuju halaman belakang diantar oleh seorang kakak kelas , sepertinya dia selalu mencuri pandangan mataku.
"Ayo cepet , nanti kamu kena hukuman lagi kalau lelet." Ancamnya dengan nada tegas.
Dalam hatiku berkata bahwa sikap dirinya hanya dibuat-buat. Tujuannya agar terlihat seram dan membuatku takut.
"Karena kelakuanmu itu tidak bisa ditolerir, sekarang kamu tanggalkan tas mu disini. Lalu, lari seratus kali mengelilingi Lapangan ini. Sebelum melakukannya, Kamu bantu Mira dibelakang Sana. Awas kalau berleha-leha dan pekerjaanmu tidak kunjung selesai. Kamu harus membersihkan ruangan kelasmu selama satu minggu tanpa dibantu siapapun." Ucap Bara yang berbicara dengan lantang.
Ardi hanya bengong melihat caranya berbicara tanpa ba bi bu begitu lancar. Bara tidak akan pandang bulu dan memberikan hukuman ringan pada siapapun yang melanggar. Dirinya dikenal orang disiplin , tegas , dan pintar. Hal itulah yang menjadikan dirinya terpilih menjadi ketua OSIS.
"Galak bener ketua OSIS , gak bisa Nego apa hukumannya dengan bakso semangkok.?" Gumamku dalam hati.
"Heii... Kau malah Bengong." Bentak Bara.
"Iya kak." Jawab Ardi berbalik tegas.
Aku terus memperhatikan Ardi , ternyata dia sedang melakukan push-up entah berapa kali.
"Ehhh... matamu melihat kemana ?" Tanya kakak kelas yang mengantarnya.
Aku kaget terhentak, mengira kakak kelas itu tidak memperhatikanku. Hanya diam terhenti langkahku.
"Ehh... kamu malah bengong dan diam lagi. Jalannya pake mata, kalau jatuh dan kakinya terkilir bagaimana ?" Ujarnya.
"Iya kak.. maaf.." Jawabku.
"Ayo cepet ikuti jangan menoleh kekiri kekanan."Ucapnya.
Kutelusuri jalan setapak yang dipinggirannya taman dengan berhiaskan rumput hijau yang masih basah oleh embun. Batu kerikil ditengahnya. Namun, batu itu tidak terlalu tajam. Pot bunga menggantung rapi dan karya seni lukisan ditembok dengan rangkaian kata motivasi menjadi pelengkap taman sekolah.
Siswa siswi hari itu berjumlah sekitar dua ratus tujuh puluh lima. Ardi manggut manggut saat ketua OSIS menunjuk nunjuk mukanya, bahkan hampir mengenai batang hidungnya. Saking mancungnya barangkali.
"Kamu berani nada bicaranya lantang terhadap kami. Maka , itulah bonus hukumannya diganjar push-up dua puluh kali." Ujar Bara dengan senyum kecut. Rasa tidak suka terpancar dari raut mukanya terhadap Ardi.
Ardi seketika sepertinya peot tidak berdaya, Taringnya ompong luluh lantah oleh ganjaran Bara yang diberikan.
*******
Bersambung
Artikel Terkait
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
EmoticonEmoticon