Banner Iklan
Rabu, 05 Juni 2024
Wanita Lain di Hati Suamiku
"Bangun Mey! Temani abang! Abang tidak sanggup menjalani ini sendirian." Ikhsan menggenggam tangan Meyra. Lalu, membawanya ke puncak hidung.
"Abang salah telah menyia-nyiakanmu. Abang terima semua hukuman. Tapi, tidak begini. Ini terlalu berat." Ikhsan menyusut tangis. Ia mendadak cengeng. Prinsipnya yang mengatakan 'pantang bagi laki-laki mengeluarkan air mata' telah ia langgar.
Ini bukan kehendak Ikhsan. Air mata itu, jatuh dengan sendirinya. Semakin menjadi setelah dokter menjelaskan kondisi si kecil. D4rah dagingnya kr1tis. Usia kelahiran yang belum cukup umur, bentur4n keras, ker4cunan, kondisi Meyra yang lemah hingga mempengaruhi detak jantung janin, menjadi penyebab. Dan yang tidak kalah penting, telatnya pertolongan datang. Dipastikan, terlambat sedikit lagi, Meyra dan bayinya hanya tinggal nama.
"Kita tunggu keajaiban Tuhan!" Ikhsan meringis. Guncangan di bahunya, semakin kencang. Saat kalimat tersebut, terus terngiang di telinga Ikhsan.
Bertumpuk-tumpuk penyesalan menyesaki dada Ikhsan. Andai mempunyai kekuatan, dipastikan detik ini juga, ia memutar ulang mesin waktu. Menghitung mundur saat dimana Meyra memintanya untuk tetap tinggal di rumah. Atau, saat Meyra yang menghubunginya dan ia segera pulang. Akan tetapi, tentu saja semua itu mustahil berlaku di dunia nyata.
"B0doh ... b0doh ...." Berulang kali Ikhsan merutuk diri sembari memvkul puncak kepala. Tangan Meyra yang masih di genggaman, dijadikan senjat4. Berharap, perempuan dengan mata yang masih memicing itu membalaskan sakit. Hingga sesal yang tidak berujung itu, sedikit berkurang.
"Mey ..., bangun!" Tidak hanya suara Ikhsan yang bergetar. Pun dengan tangan yang telah berpindah ke ubun-ubun Meyra dan mengusapnya lembut.
**kani
[Abang di mana? Bukankah kita akan menikah? Kenapa belum sampai? Kay udah nggak sabar menunggu abang]
Ikhsan meringis. Betapa b4jingannya ia sebagai laki-laki. Disaat anak dan sang istri berada di ujung m4ut, ia menjanjikan pengkhi4natan pada perempuan lain.
[Kenapa hanya dibaca? Abang tidak lupa, 'kan dengan janji kita semalam?]
Lupa? Ya!
Seharian ini, ingatan Ikhsan hanya berpusat pada Meyra dan anaknya. Di benak putra sulung Fatimah itu, hanya ada bayang-bayang ketakutan. Bahkan, diri sendiri saja luput dari perhatian. Sekedar mengganti baju yang dipenuhi bercak d4rah, tidak terbersit di pikiran. Pun dengan tenggorokan yang belum dialiri setetes air dan lambung yang belum terisi makanan. Jika tidak diingatkan sang ibu, mungkin hingga menjelang sore ini, Ikhsan sudah terk4par karena magh kronis yang ia derita.
Ponsel di genggaman Ikhsan berdering. Membaca nama kontak si penelpon, ia mendes4h panjang.
[Kenapa tidak diangkat? Abang sedang tidak menghindari Kay, 'kan?]
Pikiran Ikhsan berkecamuk. Ia tahu siapa Kayyisa. Perempuan keras kepala yang tidak akan berhenti hingga tujuannya tercapai. Sepuluh tahun yang lalu, salah satu sifat tersebut membuat Ikhsan tergil4-gil4. Ia merasa tertant4ng untuk menaklukan gadis yang menjadi incaran hampir seluruh siswa seantero sekolah.
Telepon genggam Ikhsan kembali berbunyi. Tidak hanya satu kali. Setelah panggilan pertama usai, kedua, ketiga, dan selanjutnya tanpa berhenti datang silih berganti.
Ikhsan sadar. Kepengecutannya menghadapi situasi saat ini, telah membuatnya menjadi seorang pecund4ng.
[Nggak salah lagi. Abang benar-benar sedang menghindari, Kay]
Ikhsan bergeming. Perempuan yang telah ia serahkan hatinya itu, kembali terluka. Dua tahun lalu, ia juga melakukan hal yang sama. Setelah berjanji akan datang melamar, justru undangan pernikahan yang dikirim ke kediaman keluarga Kayyisa. Karena itu, Ikhsan tak sanggup membayangkan betapa terlukanya hati si gadis pujaan.
[Kay, nggak mau dicap pelakor. Meski tak mudah, Kay berusaha menerima takdir. Kita tidak berjodoh. Tapi, bagaimana dengan abang? Setelah dua tahun berpisah, abang kembali dengan janji yang memabukkan. Apakah salah jika Kay menagih janji tersebut?]
[Sekarang, abang menghindar. Abang anggap Kay apa? Ke mana perginya kata cinta yang semalam abang ucapkan? Belum dua puluh empat jam, abang sudah lupa. Untuk kali ini, Kay tidak akan diam. Abang harus mempertanggungjawabkan semua. Jika abang tidak menepati janji—setelah ini—Meyra akan tahu siapa sebenarnya laki-laki yang menikahinya. Pun dengan kata-kata cinta yang tidak pernah ia dapat, tapi dengan mudah suaminya berikan pada perempuan lain]
Dua pesan panjang Kayyisa, membuat Ikhsan membenci diri sendiri. Ini salahnya. Dan ia harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan semua.
**kani
Hari ketiga dirawat di Intensive Care Unit, kesehatan Meyra belum memperlihatkan perubahan yang berarti. Meski masa kritis telah terlewat, matanya masih betah memejam. Dengan setia, Ikhsan menunggui Meyra. Meski hatinya dilanda kemelut. Kayyisa tidak berhenti meneror dengan nomor berbeda. Ditambah kondisi si kecil yang kian menurun.
Berdiri di samping inkubator, arah pandang Ikhsan tidak beralih dari satu titik. Titik di mana dada yang terpasang peralatan medis, bergerak turun naik. Melihat kencangnya pergerakan tersebut, tak dapat ia bayangkan bagaimana susahnya makhluk mungil itu bernafas. Jika bisa, ingin Ikhsan menggantikan semua sakit yang diderita putri kecilnya.
"Organ inti belum matang sempurna. Berat badan jauh di bawah garis normal. Sepertinya, lahir cukup bulan pun susah untuk si bayi mengejar ketinggalan. Selama cek up rutin, apakah dokter tidak menjelaskan semua keadaan tersebut?"
Mengingat ucapan dan pertanyaan dokter spesialis anak beberapa menit yang lalu, hati Ikhsan berdesir nyeri. Tidak ada satu pun yang ia ketahui tentang kehamilan Meyra. Perempuan itu hanya diam, ia pun tidak bertanya. Masih pantaskah Ikhsan bergelar suami dan ayah dari bayi yang telah ia sia-siakan kehadirannya?
Mendadak, lamunan Ikhsan terputus. Mesin pendeteksi detak jantung, berbunyi nyaring dan panjang. Di layar monitor, garis lurus bergulir tanpa henti. Dalam hitungan detik, bunyi tak lagi terdengar.
Ikhsan kembali mengarahkan pandangan ke titik semula. Dada yang beberapa saat lalu luput dari pengamatannya, tak lagi bergerak. Saat itu juga, jantung Ikhsan seperti berhenti bekerja. Kesadarannya, seakan dicabut paksa.
Apakah Tuhan telah mengambil kembali milik–Nya?
Sudah tamat di kbm app
Judul Wanita Lain di Hati Suamiku
Akun kani_kani30
Fb kani kani

EmoticonEmoticon