Selasa, 18 Juli 2023

Suami Ringan Tangan 3 Tahun Seperti Di Neraka (Part 1)

Tags

Part 1


"Pokoknya bapak tidak mau tau , sudah bosan hidup miskin seperti ini Dinda !!!" Ujar Ayahnya Tono berapi-api dan sangat lantang berbicara terhadap anak kesatunya.

"Dinda tidak mau ayah kalau dijodohkan." Jawab Dinda dengan kepala menunduk.

Dinda adalah anak yang penurut dari kecil, kehidupannya tidak kembali berwarna ketika sang ibu meninggal dunia saat usianya beranjak 16 tahun.

"Lihat adik-adikmu Dinda,!!! Masih membutuhkan banyak biaya !!!" Jawab Ayahnya dengan kukuh.

"Kalau urusan biaya , Dinda bisa cari kerja untuk bantu ayah." Sahut Dinda dengan mencoba menenangkan ayahnya.

"Alaahh.... Kerja dizaman sekarang ini hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, semua serba mahal, apalagi kamu hanya berpendidikan sampai SMP , Lalu bagaimana bisa mewujudkan keinginan ayah dan biaya adik-adikmu?" Jawab ayahnya dengan nada lantang.

"Tuhan akan selalu memberikan jalan keluar ayah, asalkan keyakinan, doa , dan ikhtiar kita sebagai mahkluk hidup dilakukan sepenuh hati." Ucap Dinda dengan genangan air mata yang mulai terurai.

"Kamu itu sudah berani ceramahi bapakmu ya ?, Kita realistis saja Dinda , semua itu butuh uang yang banyak !!! Kau mengerti tidak ?" Jawab ayahnya dengan teguh pada pendiriannya.

" Dinda hanya mengingatkan saja pak , maaf bukan mau ceramahi bapak, tapi Dinda saat ini belum siap untuk menikah tanpa mengetahui bagaimana karakter calon suami Dinda , dan Dinda ingin mencoba mencari pengalaman kerja dulu sambil mondok di pesantren pak." Balas Dinda terisak-isak karena tidak kuat lagi.

"Bapak sekolahkan kamu supaya nurut sama orangtua , bukan membantah seperti ini Dinda !!". Pokoknya turuti kemauan bapak !!!". Jawab ayahnya sambil menggebrak meja lalu pergi keluar dari rumah.

Perasaan bingung menghinggapi pikirannya , karena semua jawaban dan pandangan Dinda tidak pernah dipertimbangkan oleh ayahnya. Dia meratapi nasibnya dengan tatapan mata yang kosong melihat halaman depan rumahnya. Jiwanya terkoyak seperti mayat hidup. Raganya terlihat sehat namun batinnya sangat rapuh sekali.

"Andai saja ibu masih hidup, mungkin bapak tidak membentak-bentak." Gumamnya dalam hati.

"Assalamualaikum, aku pulang." Ucap Rio yang merupakan adiknya . Dia masih bersekolah di tingkat SMA.

"Waalaikum salam..." Jawab Dinda dengan mencoba menyeka air matanya supaya tidak diketahui oleh adiknya.

"Kakak kenapa murung begitu tumben ?" Ucap Rio yang duduk dipintu rumah sambil membuka tali sepatunya.

"Ahh... Gak apa apa Rio , kakak hanya kurang enak badan saja." Jawab Dinda berbohong pada adiknya.

"Hmmm... Beneran nih?". Sahut Rio beranjak masuk dalam rumah sambil menenteng sepatunya untuk disimpan di rak.

"Iya , kalau mau makan tinggal ambil sendiri saja di dapur , sudah kakak siapkan semuanya." Jawab Dinda dengan mengalihkan pembicaraan.

"Wah , kebetulan lapar nih kak tadi disekolah plajaran olahraga soalnya." Jawab Rio tanpa banyak lagi bertanya pada kakaknya langsung menuju kedapur.

"Jangan ganggu kakak dulu yah, soalnya mau istirahat dulu didalam kamar." Pinta Dinda kepada adiknya.

"Siap kak." Jawab Rio didapur yang sedang melahap makan siangnya.

"Trekkk...." Suara pintu kamar Dinda yang dikunci.

"Kepalaku sakit sekali , pusing banget , mungkin karena banyak menangis tengah malam dan kurang tidur." Ujar Dinda berbisik dengan memegang kepalanya.

Dinda membaringkan tubuhnya dengan perlahan diatas kasur , tangannya mengambil foto keluarga disamping tempat tidurnya dengan mengusap usap gambar ibunya.

"Bu.... Aku ingin menyusulmu kesana... Aku sudah tidak tahan lagi 2 tahun lamanya tanpamu seperti 2 abad." Kataku berbicara sendiri.

Hingga tidak terasa Dinda tertidur sambil memeluk foto keluarganya disertai genangan air mata yang menetes di pipinya membasahi bantal.

"Kasian kak Dinda , aku gak tau apa yang dirasakan olehnya , kenapa sering murung akhir-akhir ini." Ujar Rio berbicara sendiri.

Ternyata dia mendengarkan curhatan Dinda dengan cara menempelkan Daun telinganya ke pintu kamar. Rio adalah adiknya yang sangat sayang terhadap kakaknya itu.

"Aku harus mencari tau apa penyebab kak Dinda selalu murung." Ide Rio.

" Kak Rio kenapa berdiri disitu hayo....?". Ucap Nisa adik Rio yang baru beranjak 9 tahun.

"Ah... Gak ada apa apa kok." Ucap Rio.

"Hayoo... Bohong...!!" . Jawab Nisa.

"Apaan sih masih kecil udah kepo kayak ibu ibu rempong !". Ujar Rio dengan nada lantang.

"Emang Nisa gak boleh tau ya ?". Jawabnya.

"Nisa masih kecil, lagian itu badan bau udah main seharian dari pulang sekolah , ayo lekas mandi."perintah Rio.

"Iya kakak bawel." Ucap Nisa sambil mengambil handuk bergegas ke kamar mandi.

" Udah itu Nisa makan ya, lalu sekolah agama." Perintah kedua Rio pada adiknya.

"Iya kakak cerewet kayak kaleng rombeng." Jawab Nisa didalam kamar mandi dengan terkekeh-kekeh.

"Kalau nanti kak Nisa nanyain , kakak mau ngerjain tugas kelompok dirumahnya Bara gitu yah.".Ucap Rio.

"Siap komandan." Jawab adiknya.

Rio kembali keluar rumah dengan menggendong tas pergi menuju kerumah bara.

"Lapar perutku." Ujar Nisa yang suda rapi berpakaian memakai baju muslim.

Akhirnya bisa makan dan langsung berangkat pergi ke sekolah agama.

"Dinda.... Dinda....!" Ucap ayahnya mencari dirinya kesetiap sudut rumah. Namun, tidak ada suaranya yang menyahut. Mungkin karena Dinda sangat kecapean.

"Alaahhh... Kemana lagi itu anak ? Apa mungkin di kamarnya yah ?" Ujar Ayahnya.

"Nak Dani duduk dulu disini yah , bapak mau memanggil dinda mungkin dikamarnya." Ayah Dinda menawarkan duduk pada lelaki yang dibawanya.

"Jreeuugg...gejreeggg...gejreegg..." Gagang pintu mencoba dibuka berulang kali olehnya.

"Dinda buka pintunya Dinda... Kamu budeg yah?" Ayahnya bersuara lantang.

"Iyaa..." Jawab Dinda.

"Kamu lagi ngapain sih ?. Dari tadi ayah panggil-panggil " jawab ayahnya dengan kesal.

Dinda beranjak dari kamar tidurnya mengusap bekas airmata dipipinya bercermin , terlihat matanya begitu sembab. Lalu pergi ke toilet didalam kamarnya agar tidak terlihat kusut.

"Ayo cepet Dinda ada tamu tuh nunggu dari tadi !" Bentak ayahnya.

Jleg.... Dinda terdiam saat membasuh mukanya dengan air dan mengusapnya dengan handuk kecil. Dirinya mengambil sisir merapikan rambutnya , lalu memakai hijab. Setelah dirasa beres Dinda membuka kunci pintu kamarnya dan keluar.

"Siapa pak ?" Tanya Dinda.

"Kamu buatkan kopi dua gelas, bawa kesini langsung cepat !" Ayahnya sudah tidak sabar.

"Aduh maaf yah nak Dani menunggu , biasa kalau cewek suka lelet bila dikamar. Hehe...". Bujuk ayahnya pada Dani tamunya.

" Ini pak kopinya." Dinda menyodorkan ke meja.

"Dani , ini Dinda anak kesatu bapak , dan ini Dinda ayo salaman." Perintah ayahnya.

Suasana hening , Dinda menatap Dani kala itu dan langsung menunduk lagi karena malu. Apalagi laki-laki yang dibawa oleh ayahnya belum pernah dikenal.

"Eehhh... Malah bengong Dinda." Dengan kesal ayahnya berkata.

Dani semenjak dari tadi sudah menyodorkan tangannya untuk bersalaman , namun Dinda malah melamun..

" Dinda mas.." jawabku.

Dinda merasa heran dengan maksud dan tujuan dari ayahnya.

"Apa maksudnya semua ini?". Gumamnya dalam hati.

"Nak Dani , bapak tinggal dulu yah , karena harus kerumah Pak Baskoro Sudah janjian sore ini." Ucap ayah Dinda dengan tersenyum ramah.

"Dinda , kamu ajak ngobrol yah. Ingat jangan jutek dan kamu harus ramah." Perintah ayahnya dengan mata yang sedikit melotot.

Bersambung
This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon